Langsung ke konten utama

Materi 5 Komponen-Komponen Keterampilan Manajemen Kelas


KOMPONEN- KOMPONEN KETERAMPILAN MANAJEMEN KELAS

      A.    Pengertian Komponen keterampilan manajemen kelas
Pengertian komponen keterampilan mnajemen kelas Menurut bahasa “keterampilan” artinya kecakapan untuk menyelesaikan tugas. Sedangkan menurut istilah “keterampilan” adalah sekumpulan pengetahuan dan kemampuan yang harus dikuasai. Kemudian “mengelola” menurut bahasa artinya mengendalikan, menyelenggara, mengurus, menjalankan. Menurut istilah “mengelola” adalah penciptaan suatu kondisinya memungkinkan belajar siswa menjadi optimal.
Menurut Oemar Hamalik pengelolaan kelas adalah suatu kelompok yang melakukan kegiatan belajar bersama.
Menurut Suharismi Arikunto, manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar atau membantu dengan maksud agar dicapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
Menurut Syaiful Bahri Djamar dalam sebuah bukunya yang berjudul “Guru dan anak didikdalam interaksi edukatif” bahwa, manajemen kelas adalah suatu upaya  memperdaya gunakan potensi kelas yang ada seoptimal mungkin untuk mendkung proses interaksi edukatif mencapai tujuan pembelajaran.
Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan dari arti manajemen kelas adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan belajar mengajar dengan maksud agar dapat dicapai suatu kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar seperti yang diharapkan.
     B.     Macam-Macam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
1.      Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prevetif)
Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran secara aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan keterampilan sebagai berikut:
a.       Sikap anggap
Seseorang guru memperlihatkan sikap positif terhadap setiap perilaku yang muncul pada siswa dan memberikan tanggapan-tanggapan pantas perilaku tersebut dengan maksud tidak menyudutkan kondisi siswa, perasaan tertekan dan memunculkan perilaku susulan yang kurang baik. Komponen ini ditunjukkan oleh tingkah laku guru bahwa ia hadir bersama mereka. Guru tahu kegiatan bahwa ia hadir bersama mereka. Guru tau kegiatan mereka, tahu ada perhatian atau tidak ada perhatian, tahu yang mereka kerjakan. Seolah-olah mata guru ada dibelakang kepala, sehingga guru dapat menegur anak didik walaupun guru sedang menulis di papan tuis.
b.      Membagi perhatian
Kels diisi oleh sejumlah orang (siswa) yang memiliki keterbatasan-keterbatasan yang berbeda-beda yang membutuhkan bantuan dan pertolongan dari guru. Perhatian guru tidak hanya terfokus pada satu orang atau satu kelompok tertentu yang dapat menimbulkan kecemburuan, tapi perhatian harus terbagi dengan merata kepada setiap anak yang ada didalam kelas juga harus mampu membagi perhatiannya kepada beberapa kegiatan yang berlangsungdalam waktu yang sama agar pengelolaan kelas menjadi efektif.
c.       Pemusatan perhatian kelompok
Munculnya kelompok informal dikelas atau pengelompokan karena disengaja oleh guru dalam kepentingan pembelajaran membutuhkan kemampuan untuk mengatur dan mengarahkan perilakunya, terutama ketika kelompok perhatiannya harus terpusat pada tugas yang harus diselesaikan.
2.      Keterampilan yang berhubungan dengan pengendalian kondisi blajara yang optimal.
Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan kegiatan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal.
Namun pada tingkat tertentu guru dapat menggunakan seperangkat strategi untuk tindakan seperngkat strategi untuk tindakan perbaikan terhadap tingkah laku anak didik yang terus menerus menimbulkan gangguan dan yang tidak mau terlibat dalam tugas kelas. Strategi itu adalah:
1.      Memodifikasi tingkah laku
2.      Pengelolaan kelompok
3.      Menemukan dan memecahkan tingkah laku yang menimbulkan masalah.

       C.    Permasalahan Dalam Komponen Pengelolaan Kelas
Menurut Majid (2007: 114-117) dalam pengelolaan kelas terdapat dua masalah yakni masalah individual dan masalah kelompok. Tindakan pengelolaan kelas seorang guru akan efektif apabila guru dapat mengidentifikasi dengan tepat hakikat masalah yang sedang dihadapi. Adapun masalah-masalah pengelolaan kelas akan dijelaskan di bawah ini sebagai berikut:
1)      Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada pencapaian suatu tujuan.Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku menyimpang. Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
2)      Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a.    Kurangnya kekompakan : Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b.   Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria dan lain-lain.
c.      Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu, anggota kelompok yang menyimpang dari aturan kelompok atau anggota kelompok yang menghambat kegiatan kelompok.Anggota kelompok dianggap “menyimpang” ini kemudian “dipaksa” oleh kelompok itu untuk mengikuti kemauan kelompok.
d.      Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan. Ketidakmampuan menyesuaikan diri terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain. yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu adalah kelas yang baik.


DAFTAR RUJUKAN

Djamarah, Syaiful Bahri.2005. Guru dan Anak Didik dalam interaksi Edukatif suatu
pendekatan Teoritis Psikologis. Jakarta: Rineka Cipta.
Majid, Abdul. 2014. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suharsimi, Arikunto. 1996. Pengelolaan kelas dan siswa. Jakarta: PT. Raja  Grafindo.

Komentar

Posting Komentar