TAHAPAN
PENANGGULANGAN DISIPLIN KELAS
A.
Tindakan Preventif
(Pencegahan)
Tindakan preventif (pencegahan)
dilakukan manusia, baik secara pribadi maupun berkelompok untuk melindungi diri
mereka dari hal buruk yang mungkin terjadi.Karena tujuannya mencegah dan
mengurangi kemungkinan terjadinya hal yang tak diinginkan, maka umumnya
tindakan preventif biayanya lebih murah ketimbang biaya penanggulangan atau
mengurangi dampak dari suatu peristiwa buruk yang sudah terjadi.
Kata preventif banyak digunakan
dalam banyak bidang, misalnya bidang sosial dan kesehatan. Namun, pada dasarnya
memiliki arti yang sama, yaitu upaya atau tindakan pencegahan.Menurut Rachman (1997) Tindakan preventif (pencegahan)
adalah tindakan yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang
yang mengganggu kondisi optimal berlangsungnya pembelajaran. Upaya ini
dilakukan dengan pemberian pengaruh yang positif terhadap individu serta dengan
menciptakan suasana lingkungan sekolah, termasuk pengajaran yang menyenangkan.
Keberhasilan dalam tindakan
preventiF (pencegahan) merupakan salah satu indikator keberhasilan manajemen
kelas. Konsekuensinya adalah guru dalam menentukan langkah-langkah manajemen
kelas harus melakukan langkah-langkah yang efektif dan efisien untuk jangka
pendek maupun jangka panjang.
Menurut Rachman (dalam
Tim Dosen Administrasi Pendidikan, 2012: 119) mengemukakan langkah-langkah
Tindakan Preventif (pencegahannya) sebagai berikut:
1.
Peningkatan kesadaran
diri sebagai guru
Sikap
guru terhadap kegiatan profesinya akan banyak mempengaruhi terciptanya kondisi
belajar mengajar atau menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan
terjadinya belajar.
Oleh karena itu, langkah utama dan pertama yang
strategis dan mendasar dalam kegiatan pengelolaan kelas adalah
"Peningkatan kesadaran diri sebagai guru.” Apabila seorang guru sadar akan
profesinya sebagai guru pada gilirannya akan meningkatkan rasa tanggung jawab
dan rasa memiliki yang merupakan modal dasar bagi guru dalam melaksanakan
tugasnya.
Implikasi adanya kesadaran diri sebagai guru akan
tampak dalam sikap guru yang demokratis tidak otoriter, menunjukan kepribadian
yang stabil, harmonis serta berwibawa. Sikap demikian pada akhirnya akan
menumbuhkan atau menghasilkan reaksi serta respon yang positif dari
siswa sekolah dasar.
2. Peningkatan
kesadaran siswa
Meningkatkan
kesadaran diri sebagai guru tidak akan ada artinya tanpa diikuti meningkatnya
kesadaran siswa sebab apabila siswa tidak atau kurang memiliki kesadaran
terhadap dirinya tidak akan terjadi interaksi yang positif dengan guru dalam
setiap kegiatan belajar mengajar. Pada akhimya dapat mengganggu kondisi optimal
dalam rangka belajar mengajar. Kurangnya kesadaran siswa terhadap dirinya
ditandai dengan sikap yang mudah marah, mudah tersinggung, mudah kecewa, dan
sikap tersebut akan memungkinkan siswa melakukan tindakan-tindakan yang kurang
terpuji.
Untuk
menanggulangi atau mencegah munculnya sikap negatif tersebut guru harus
berupaya meningkatkan kesadaran siswa melalui tindakan sebagai berikut:
a.
Memberitahukan kepada
siswa tentang hak dan kewajiban siswa sebagai anggota kelas.
b.
Memperhatikan kebutuhan
dan keinginan siswa.
c.
Menciptakan suasana
adanya saling pengertian yang baik antara guru dan siswa.
3. Sikap
Polos dan Tulus dari Guru
Guru
dituntut untuk bersikap polos dan tulus, artinya guru dalam tindakan dan sikap
keseharian selalu "Apa adanya" tidak berpura-pura. Guru dengan sikap
dan kepribadiannya sangat mempengaruhi lingkungan belajar, karena tingkah laku,
cara menyikapi, dan tindakan guru merupakan stimulus yang akan direspon dan
diberikan reaksi oleh para peserta didik. Kalau stimulus itu positif maka
respon yang diberikan juga akan positif. Sebaliknya jika stimulus yang
diberikan negatif maka respon yang diberikan adalah negatif.
Sikap
hangat, terbuka, mau mendengarkan harapan dan atau keluhan para siswa, akrab
dengan guru akan memungkinkan terjadinya interaksi dan komunikasi wajar antara
guru dan peserta didik. Tindakan dan sikap demikian akan memberikan rangsangan
positif bagi siswa, khususnya siswa sekolah dasar dan siswa akan memberikan
respon atau reaksi positif. Penciptaan suasana sosioemosional di dalam kelas
akan banyak dipengaruhi oleh polos tidaknya dan tulus tidaknya sikap guru yang
pada gilirannya akan berpengaruh penciptaan kondisi lingkungan yang optimal
dalam rangka proses belajar mengajar.
4. Mengenal
dan menemukan alternatif pengelolaan
Langkah
ini mengharuskan guru agar mampu:
a.
Mengidentifikasi
berbagai penyimpangan tingkah laku siswa yang bersifat individual atau kelompok.
Termasuk di dalamnya penyimpangan yang sengaja dilakukan siswa sekolah
dasar yang tujuannya hanya sekedar untuk menarik perhatian guru atau
teman-temannya.
b.
Mengenal berbagai
pendekatan dan pengelolaan kelas dan menggunakan sesuai dengan situasi atau
menggantinya dengan pendekatan lain yang telah dipilihnya apabila pilihan
pertama mengalami kegagalan.
c.
Mempelajari pengalaman
guru-guru lainnya baik yang gagal atau berhasil sehingga dirinya mempunyai
alternatif yang bervariasi dalam berbagai problem pengelolaan manajemen
kelas di sekolah dasar.
5. Menciptakan
"kontrak sosial"
Kontrak
sosial pada dasarnya berkaitan dengan "Standar tingkah laku" yang
diharapkan dan memberikan gambaran tentang fasilitas beserta keterbatasannya
untuk memenuhi tuntutan dan kebutuhan sekolah. Dengan kata lain "Standar
tingkah laku yang memadai dalam situasi khusus".
Suatu
persetujuan umum tentang bagaimana sesuatu dibuat, tindakan sehari-hari yang
bagaimana yang diperbolehkan. Standar tingkah laku ini tidak membatasi kebebasan
siswa akan tetapi merupakan tindakan pengarahan ke arah tingkah laku yang
memadai atau yang diharapkan dalam beberapa situasi.
Standar
tingkah laku harus melalui "Kontrak sosial" dengan siswa. Dalam arti
bahwa aturan yang berkaitan dengan nilai atau norma yang turun dari atasan
(guru/sekolah) tidak timbul dari bawah akan mengakibatkan aturan tersebut
kurang dihormati atau ditaati, sehingga perumusannya perlu dibicarakan atau
disetujui bersama oleh guru dan siswa.
Yang
dilakukan dalam usaha preventif (Pencegahan) di lingkungan sekolah antara lain:
1.
Memberikan bimbingan
2.
Mengadakan hubungan
baik dengan orangtua murid dengan sekolah sehingga ada saling pengertian
3.
Memberikan motivasi
belajar pada siswa
4.
Mengadakan pengajawan
ekstrakurikuler
5.
Memantau perkembangan
anak
Contohnya:
1.
Guru menasihati murid
agar tidak terlambat datang ke sekolah.
2.
Tindakan orang tua
membatasi anaknya yang di bawah umur dalam menggunakan gadget, merupakan
tindakan preventif agar si anak tidak kecanduan bermain gadget.
B. Tindakan
Kuratif (Penyembuhan)
Tindakan
kuratif (penyembuhan) adalah tindakan yang diambil setelah terjadinya tindak
penyimpangan sosial. Tindakan ini ditujukan untuk memberikan penyadaran kepada
para pelaku penyimpangan agar dapat menyadari kesalahannya dan serta mampu
memperbaiki kehidupannya, sehingga di kemudian hari tidak lagi mengulangi
kesalahannya.
Dalam
kegiatan memanajemen kelas, pelanggaran yang sudah terlanjur dilakukan peserta
didik atau sejumlah peserta didik perlu ditanggulangi dengan tindakan
penyembuhan baik secara individual maupun secara kelompok.Tindakan Kuratif
Yaitu Merupakan tindakan yang dilakukan untuk mengatasi penyimpangan
sosial. Tindakan kuratif dapat dilakukan
dengan berbagai carasebagai berikut :
a.
Menghilangkan semua
penyebab kejahatan remaja
b.
Melakukan perubahan
lingkungan dengan cara mencari ortuangkat/asuh,dllc.
c.
Memindahkan anak-anak
nakal ke lingkungan sosial yg baik
d.
Memberi latihan pada
anak remaja untuk hidup mandiri, disiplin,memanfaatkan waktu
e.
Menggiatkan
organisasi pemuda dengan program-program latihankejuruan untuk mempersiapkan
anak remaja dalam lapangan kerja
f.
Memperbanyak lembaga
latihan kerja dengan program kegiatan pembangunan
Menurut
Johar Permana (dalam Abdul Majid 2013:122) mengemukakan ada 5 langkah-langkah kegiatan
Tindakan Penyembuhan (Kuratif) yaitu sebagai berikut:
1.
Mengidentifikasi
masalah
Pada langkah pertama ini guru
melakukan kegiatan untuk mengenal atau mengetahui masalah-masalah yang timbul
dalam kelas. Dari masalah-masalah tersebut guru harus dapat mengidentifikasi
jenis-jenis penyimpangan sekaligus mengetahui siswa yang melakukan penyimpangan
tersebut.
2.
Menganalisa masalah
Pada langkah kedua ini, kegiatan
guru adalah berusaha untuk menganalisa penyimpangan tersebut dan menyimpulkan
latar belakang dan sumber dari pada penyimpangan itu. Setelah diketahui sumber
penyimpangan guru kemudian melanjutkan usahanya untuk menentukan
alternatif-alternati penanggulangan atau penyembuhan penyimpangan tersebut.
3.
Menilai
alternatif-alternatif pemecahan, menilai dan melaksanakan salah satu alternatif
pemecahan
Pada langkah ketiga ini, kegiatan
yang dilakukan adalah memilih alternatif berdasarkan sejumlah alternatif
pemecahan masalah yang telah disusun. Artinya alternatif mana yang paling tepat
untuk menanggulangi penyimpangan tersebut.
4.
Melaksanakan alternatif
yang telah ditetapkan
Setelah ditetapkan alternatif yang
tepat maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan alternatif tersebut.
Langkah ini didahului dengan
langkah monitoring yaitu kegiatan untuk mendapatkan data yang merupakan balikan
untuk menilai apakah pelaksanaan dari alternatif pemecahan yang dipilih telah
mencapai sasaran sesuai dengan yang direncanakan atau bahkan terjadi
perkembangan baru yang lebih baik, semua ini merupakan dasar untuk melakukan perbaikan
program.
Kegiatan kilas balik seperti itu
dapat dilakukan dengan mengadakan pertemuan dengan peserta didik. Dengan
pertemuan tersebut perlu dijelaskan tujuan peetemuan dan manfaat pertemuan.
Manfaat pertemuan perlu dijelaaskan karena untuk memberikan kesadaran pada
peserta didik bahwa pertemuan yang dilakukan diusahakan dengan penuh ketulusan,
semata- mata untuk perbaikan, baik untuk peserta didik maupun sekolah.
Selain itu perlu disikapi
pengendalian perilaku guru dalam pertemuan tersebut. Tunjukkan kepada peserta
didik bahwa guru bukan orang yang sempurna atau tidak bebas dari kekurangan dan
kelemahan. Sehingga antara peserta didik diperoleh kesadaran untuk bersama-sama
belajar saling memperbaiki dan saling mengingatkan, yang semuanya itu untuk kepentingan
bersama. Informasi yang diperoleh dari balikan ini merupakan bahan yang sangat
berguna untuk menilai program, dan akhirnya merupakan dasar melakukan perbaikan
program.
Menurut
Ahmad Rohani (2010:162) mengemukakan langkah-langkah implementasi yang dapat
dilakukan dalam tindakan penyembuhan (Kuratif) sebagai berikut:
1.
Mengidentifikasi
peserta didik yang mendapat kesulitan untuk menerima dan mengikuti tata tertib
atau menerima konsekuensi dan pelanggaran yang dibuatnya
2.
Membuat rencana yang
diperkirakan paling tepat tentang langkah-langkah yang akan ditempuh dalam
mengadakan kontrak dengan peserta didik.
3.
Menetapkan
waktu pertemuan dengan peserta didik tersebut yang disetujui bersama
oleh guru dan peserta didik yang bersangkutan
4.
bila saatnya pertemuan
dengan peserta didik jelaskanlah maksud diperoleh baik oleh peserta didik
maupun oleh sekolah
5.
Tunjukkanlah kepada
peserta didik bahwa guru pun bukan orang yang sempurna dan tidak bebas dari
kekurangan dan kelemahan dalam berbagai hal. Akan tetapi yang penting antara
guru dan peserta didik harus ada kesadaran untuk bersama-sama belajar saling
memperbaiki diri, saling mengingatkan bagi kepentingan bersama.
6.
Bila pertemuan yang diadakan dan ternyata peserta
didik responsif maka guru bisa mengajak peserta didik untuk
melaksankan diskusi tentang masalah yang dihadapinya
7.
Pertemuan guru dan
peserta didik harus sampai kepada pemecahan masalah dan sampai kepada “kontak
individual” yang diterima peserta didik dalam rangka memperbaiki tingkah
laku peserta didik tentang pelanggaran yang dibuatnya
8.
Melakukan kegiatan
tindak lanjut.
Contoh kasus tindakan
kuratif beserta penyelesainnya:
1.
Seorang guru menegur
dan menasihati siswanya karena ketahuan menyontek pada saat ulangan bertujuan
untuk memberi penyadaran kepada perilaku dan memberi efek jera.
2.
Suka penyelewengan
waktu belajar untuk kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat, seperti, omong
kosong sambil merokok. Akibat konsentrasi pikirannya menjadi lemah karena
kurang tidur atau istirahat, suka melamunkan impian-impian kosong, kecanduan
dan sebagainya. Tindak preventif adalah menjaga
keharmonisan hubungan antar sivitas akademika dengan melibatkannya dalam
kesibukan-kesibukan kecil sampai kesibukan besar yang menghasilkan sukses,
sehingga tidak menimbulkan rasa patah semangat atau kebencian-kebencian kepada
tugas-tugas, khususnya tugas-tugas akademik. Secara tindak kuratif atau
harus dilakukan penyembuhan terhadap pelaku.
3.
Suka membolos atau
meninggalkan pelajaran mengakibatkan siswa ketinggalan pelajaran, atau
kehilangan bagian penting dari pelajaran, lebih-lebih bila pelajaran itu
bersifat prerekuisit (misalnya matematika), maka kerugian-kerugian itu akan
semakin menjadi "momok" dari studinya.
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul, Majid.
2013. Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan Standar Kompetensi
Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ahmad, Rohani. 2010.
Pengelolaan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Materinya sangat bermanfaat
BalasHapussangat bagus materinya
BalasHapusSangat memuaskan materinya nesya
BalasHapusTerimaksih udah membuat materi ini, materi ini sngt membntu
BalasHapus