MASALAH DALAM
KELAS DAN UPAYA PEMECAHANNYA
A. Latar belakang masalah
Suasana sekolah
pada umumnya dan suasana kelas pada khususnya merupakan modal penting bagi
jernihnya pikiran untuk mengikuti pelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan suatu
keadaaan yang menyenangkan demi meningkatkan motivasi siswa untuk mengikuti
kegiatan pelajaran, untuk mengatasinya dibutuhkan manajemen kelas yaitu
penanganan yang baik agar dalam kegiatan belajar mMaengajar dapat berjalan
dengan lancar dan tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Kelas merupakan
suatu tempat anak belajar untuk mendapatkan ilmu, berinteraksi dengan teman
serta pembentukan pribadi yang baik. Kegiatan belajar siswa yang berada di
sekolah diharapkan harus intens untuk berada di kelas. Dalam lingkup kelas
terdiri dari siswa yang dapat ditinjau dari cara belajar mereka, karakter
siswa, hubungan sosial, kedisiplinan, tanggung jawab dalam proses belajar
mengajar. Guru sebagai pengelola kelas, dalam perannya, guru hendaknya mampu
mengelola kelas karena kelas merupakan lingkungan belajar serta merupakan suatu
aspek dari lingkungan sekolah yang perlu di organisasi.
Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan -
kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Salah satu manajemen
kelas yang baik ialah menyediakan kesempatan bagi siswa untuk sedikit demi
sedikit mengurangi ketergantungannya kepada guru sehingga mereka mampu
membimbing kegiatannya sendiri, sebagai manajer, guru hendaknya mampu memimpin
kegiatan belajar yang efektif serta efisien dengan hasil optimal.
Hasil belajar yang baik akan membantu mengembangkan motivasi belajar. Keadaan motivasi belajar yang baik mendorong siswa untuk menerima pelajaran dengan baik, selain itu dapat mengembangkan inisiatif (belajar sendiri). Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat. Dalam upaya menciptakan manajemen kelas yang efektif tidak terlepas dari bagaimana seorang guru mengelola perilaku siswa dalam proses belajar mengajar, tidak dapat di pungkiri bahwa dalam suatu kelas terdapat beberapa karakter dan kecerdasan siswa yang berbeda, dengan terdapatnya perbedaan - perbedaan tersebut maka akan berpengaruh kepada proses belajar mengajar di dalam kelas.
Manajemen kelas bukanlah masalah
yang berdiri sendiri namun terkait dengan beberapa faktor. Permasalahan siswa
merupakan masalah yang terkait langsung. Dalam hal ini, karena manajemen kelas
yang dilakukan guru tidak lain untuk meningkatkan semangat belajar siswa.
Keakraban guru dengan siswa, tingginya kerja sama tercipta dalam bentuk
interaksi. Adanya interaksi itu tentu saja bergantung pada pendekatan yang
dilakukan oleh guru terhadap siswanya. Pendekatan bisa dilakukan dengan
berbagai cara yaitu memberikan perhatian, ancaman maupun kebebasan dll. Hal itu
bisa dilakukan selama pelajaran berlangsung agar kondisi kelas yang tenang
dapat diciptakan. Selain pendekatan yang harus dilakukan oleh guru dalam
menjaga kondisi kelas agar tetap optimal juga diperlukan adanya
ketrampilan-keterampilan dalam mengelolanya dan prinsip-prinsip manajemen yang
harus dipahami oleh setiap guru yang bersangkutan. Kemampuan dalam mengelola
perilaku siswa merupakan kemampuan yang sangat penting untuk dimiliki oleh
seorang guru karena terdapat hubungan yang erat antara prestasi belajar siswa
dengan perilakunya di sekolah prestasi yang rendah sering menimbulkan perilaku
buruk karena siswa merasa kecewa dengansekolahnya.
Proses belajar mengajar erat
sekali kaitannya dengan lingkungan atau suasana dimana proses itu berlangsung.
Meskipun prestasi belajar juga dipengaruhi oleh banyak aspek seperti gaya
belajar, fasilitas yang tersedia, pengaruh iklim kelas masih sangat penting.
Hal ini beralasan karena ketika para peserta didik belajar di ruangan kelas,
lingkungan kelas, baik itu lingkungan fisik maupun non fisik kemungkinan
mendukung mereka atau bahkan malah menganggu mereka.
Lingkungan fisik kelas sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran. Lingkungan kelas yang
kondusif, nyaman, menyenangkan, dan bersih berperan penting dalam menunjang
keefektifan belajar. Lingkungan juga akan mempengaruhi mental siswa secara
psikologis dalam menerima informasi dari guru di dalam kelas. Bahkan, dengan
menggunakan strategi dan metode tertentu siswa dapat menerima stimulus dengan
memanfaatkan lingkungan sekitar kelas untuk membantu siswa mengejar prestasinya.
Banyak hal yang dapat dilakukan dalam sebuah kelas untuk memberikan kenyamanan
kepada siswa, penyusunan meja dan kursi yang memungkinkan siswa dapat menerima
akses informasi dengan baik dan merata, memberikan aroma tertentu yang
membangkitkan semangat dan 5 motivasi, menata bunga dan berbagai tumbuhan yang
akan memberikan kesegaran, memilih warna cat dinding yang sesuai dengan
kebutuhan untuk sebuah ruang kelas, memasang poster-poster yang berisikan
kalimat-kalimat afirmasi yang memungkinkan siswa termotivasi untuk menjadi
seseorang yang berprestasi di kelasnya.
B. Kebijakan penanganan
masalah dalam kelas
Belajar adalah salah satu aktifitas siswa yang terjadi
di dalam lingkungan belajar. Belajar di peroleh melalui lembaga pendidikan
formal dan non formal. Salah satu lembaga pendidikan formal yg umum di
indonesia yaitu sekolah dimana di dalamnya terjadi kegiatan belajar dan
mengajar yang melibatkan interaksi antara guru dan siswa. Kegiatan belajar
mengajar tersebut terjadi di dalam kelas. Tujuan belajar siswa sendiri adalah
untuk mencapai atau memperoleh pengetahuan yang tercantum melalui hasil belajar
yang optimal sesuai dengan kecerdasan intelektual.
Kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Guru-guru harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Amat sering terjadi guru-guru menangani masalah yang bersifat pengajaran dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya, seorang guru berusaha membuat penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa yang sering tidak masuk menjadi lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu, padahal siswa tersebut tidak senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak diterima oleh kawan-kawannya.
Kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menelaah kebutuhan-kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Guru-guru harus mampu membedakan kedua permasalahan itu dan menemukan pemecahannya secara tepat. Amat sering terjadi guru-guru menangani masalah yang bersifat pengajaran dengan pemecahan yang bersifat pengelolaan dan sebaliknya. Misalnya, seorang guru berusaha membuat penyajian pelajaran lebih menarik agar siswa yang sering tidak masuk menjadi lebih tertarik untuk menghadiri pelajaran itu, padahal siswa tersebut tidak senang berada di kelas itu karena dia merasa tidak diterima oleh kawan-kawannya.
Untuk dapat menangani masalah-masalah pengelolaan
kelas secara efektif guru harus mampu:
1. Mengenali secara tepat berbagai
jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok
2. Memahami pendekatan mana yang
cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu
3. Memilih dan menetapkan pendekatan
yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
C. macam- macam permasalahn dalam manajemen kelas
Ada dua macam masalah pengelolaan kelas, yaitu yang bersifat
perorangan atau individual dan yang bersifat kelompok. Disadari bahwa masalah
perorangan atau individual dan masalah kelompok seringkali menyatu dan amat
sukar dipisahkan yang satu dari yang lain.
Masalah pengelolaan kelas tersebut,
yaitu :
1.
Masalah Individual :
Penggolongan masalah individual ini
didasarkan atas anggapan dasar bahwa tingkah laku manusia itu mengarah pada
pencapaian suatu tujuan. Setiap individu memiliki kebutuhan dasar untuk memiliki
dan untuk merasa dirinya berguna. Jika seorang individu gagal mengembangkan
rasa memiliki dan rasa dirinya berharga maka dia akan bertingkah laku
menyimpang.
Ada empat jenis penyimpangan tingkah
laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain, mencari kekuasaan,
menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan. Keempat tingkah laku ini
diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik
perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
·
Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian).
Seorang siswa yang gagal menemukan
kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling
menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari
perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif
dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat
onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang
rewel. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang pasif dapat dijumpai pada
anak-anak yang malas atau anak-anak yang terus meminta bantuan orang lain.
·
Power seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan
kekuatan/kekuasaan)
Tingkah laku mencari kekuasaan sama
dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang
aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak
mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh
secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat
menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali.
Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan
ketidakpatuhan.
·
Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas
dendam).
Siswa yang menuntut balas mengalami
frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari
sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik
(mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha,
ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini. Anak-anak seperti ini
akan merasa sakit kalau dikalahkan, dan mereka bukan pemain-pemain yang baik
(misalnya dalam pertandingan). Anak-anak yang suka menuntut balas ini biasanya
lebih suka bertindak secara aktif daripada pasif. Anak-anak penuntut balas yang
aktif sering dikenal sebagai anak-anak yang ganas dan kejam, sedang yang pasif
dikenal sebagai anak-anak pencemberut dan tidak patuh (suka menetang).
·
Helplessness (peragaan ketidakmampuan).
Siswa yang memperlihatkan
ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu
yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap
tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada
dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus. Perasaan tanpa harapan dan
tidak tertolong lagi ini biasanya diikuti dengan tingkah laku mengundurkan atau
memencilkan diri. Sikap yang memperlihatkan ketidakmampuan ini selalu berbentuk
pasif.
2.
Masalah Kelompok :
Dikenal adanya tujuh masalah
kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a. Kurangnya
kekompakan
Kurangnya kekompakan kelompok
ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota
kelompok. Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau
bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Dapat
dibayangkan bahwa kelas yang siswa-siswa tidak kompak akan beriklim tidak sehat
yang diwarnai oleh adanya konflik, ketegangan dan kekerasan.
Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa
tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik
dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b. Kekurangmampuan
mengikuti peraturan kelompok
Jika suasana kelas menunjukkan bahwa
siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka
masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.
Contoh-contoh masalah ini ialah berisik; bertingkah laku mengganggu padahal
pada waktu itu semua siswa diminta tenang; berbicara keras-keras atau
mengganggu kawan padahal waktu itu semua siswa diminta tenang bekerja di tempat
duduknya masing-masing; dorong-mendorong atau menyela waktu antri di kafetaria
dan lain-lain.
c.
Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang.
Penerimaan kelompok (kelas) atas
tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya
dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma
sosial pada umumnya. Contoh yang amat umum ialah perbuatan memperolok-olokan
(memperlawakkan), misalnya membuat gambar-gambar yang “lucu” tentang guru. Jika
hal ini terjadi maka masalah kelompok dan masalah perorangan telah berkembang
dan masalah kelompok kelihatannya lebih perlu mendapat perhatian.
d.
ketiadaan semangat, tidak mau bekerja, dan tingkah laku agresif atau protes.
Ketidak-mampuan menyesuaikan diri
terhadap lingkungan terjadi apabila kelompok (kelas) mereaksi secara tidak
wajar terhadap peraturan baru atau perubahan peraturan, pengertian keanggotaan
kelompok, perubahan peraturan, pengertian keanggotaan kelompok, perubahan
jadwal kegiatan, pergantian guru dan lain-lain. Apabila hal itu terjadi sebenarnya
para siswa (anggota kelompok) sedang mereaksi terhadap suatu ketegangan
tertentu; mereka menganggap perubahan yang terjadi itu sebagai ancaman terhadap
keutuhan kelompok. Contoh yang paling sering terjadi ialah tingkah laku yang
tidak sedap pada siswa terhadap guru pengganti, padahal biasanya kelas itu
adalah kelas yang baik.
D. Solusi dalam mengatasi masalah manajemen kelas
Untuk mengatasi masalah dalam
pengelolaan kelas di atas, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan,diantaranya sebagai berikut:
a.
Behavior – Modification Approach (Behaviorism Apparoach) : Asumsi ayang
mendasari penggunaan pendekatan ini adalah bahwa perilaku “baik” dan “buruk”
individu merupakan hasil belajar.Upaya memodifikasi perilaku dalam mengelola
kelas dilakukan melalui pemberian positive reinforcement (untuk membina
perilaku positif) dan negative reinforcement (untuk mengurangi perilaku
negatif). Namun demikian, dalam penggunaan
reinforcement negatif seyogyanya dilakukan secara hati-hati, karena jika tidak
tepat malah hanya akan menimbulkan masalah baru.
b.
Pendekatan Otoriter : Pandangan
yang otoriter dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan guru untuk
nienciptakan dan mempertahankan ketertiban suasana kelas. Pengelolaan kelas
sebagai proses untuk mengontrol tingkah laku siswa ke arah disiplin. Bila
timbul masalah-masalah yang merusak ketertiban atau kedisplinan kelas, maka
perlu adanya pendekatan:
1. Perintah dan larangan
2. Penekanan dan penguasaan
3. Penghukuman dan pengancaman
4. Pendekatan perintah dan larangan
c.
Pendekatan Permisif
Pendekatan
yang primisif dalam pengelolaan kelas merupakan seperangkat kegiatan pengajar
yang memaksimalkan kebebasan peserta didik untuk
melakukan sesuatu.Sehingga bila kebebasan ini dihalangi dapat menghambat
perkembangan peserta didik. Berbagai
bentuk pendekatan dalam pelaksanaan pengelolaan kelas ini banyak menyerahkan
segala inisiatif dan tindakan pada diri peserta didik.
Diantaranya yaitu sebagai berikut:
1. Tindakan
pendekatan pengalihan merupakan tindakan yang bersifat premisif. Dari tindakan
pendekatan ini muncul hal-hal yang kurang disadari oleh peserta didik.
2.
Meremehkan sesuatu kejadian, atau tidak melakukan apa-apa sama sekali
3.
Memberi peluang kemalasan dan menunda pekerjaan.
4.
Menukar dan mengganti susunan kelompok tanpa melalui prosedur yang
sebenarnya.
5.
Menukar kegiatan salah satu pembelajar, digantikan oleh orang lain.
6.
Mengalihkan tanggung jawab kelompok kepada seorang anggota
Untuk dapat menangani
masalah-masalah pengelolaan kelas secara efektif guru harus mampu:
- Mengenali secara tepat berbagai jenis masalah pengelolaan kelas baik yang bersifat perorangan maupun kelompok;
- Memahami pendekatan mana yang cocok dan tidak cocok untuk jenis masalah tertentu.
- Memilih dan menetapkan pendekatan yang paling tepat untuk memecahkan masalah yang dimaksud.
DAFTAR PUSTAKA
Mudasir.
2011. Manajemen Kelas. Yogyakarta: Penerbit Zanafa Publishing.
Sutikno Sobry.
2008. Manajemen Pendidikan Langkah Praktis Mewujudkan Lembaga
Pendidikan yang Unggul. Jakarta: PT Bumi Aksara
Terimakasih materinya sangat membantu sekali
BalasHapusBagus sekali
BalasHapus